Headlines News :
Featured Post Today
print this page
Latest Post

Teori Menjadi Santri Ideal

http://istahilagi.blogspot.com/

Perbedaan yang sangat mencolok antara orang-orang dulu dengan orang sekarang (baca: ulama) adalah dari sisi keilmuannya. Jarang kita jumpai pada masa lalu ulama yang hanya ahli (spesifik) satu bidang ilmu tertentu. Kalaupun ada, spesifikasi tersebut lebih mengarah kepada ilmu yang beliau geluti. Bukan berarti tidak menguasai ilmu-ilmu yang lain. Beda halnya dengan sekarang, spesifikasi menunjukkan kepada keahlian tertentu.

Taruhlah contoh Imam Zakaria al-Anshary, seorang ulama yang dikenal ahli fiqh dalam madzhab Syafi’i. Kitab-kitabnya dalam bidang fiqh menunjukkan, bahwa ia seorang faqih yang tak perlu diragukan. Namun, bukan berarti beliau hanya ahli dalam bidang fiqh, sementara nahwu, tafsir, ushul fiqh, hadits, mantiq, dan lain-lain tidak beliau kuasai. Karya-karyanya, seperti Syarkh Syuduru al-Dzahab (nahwu), Fath ar-Rahman (tafsir), Tuhfah al-Bary (hadits), Ghayah al-Wushul (ushul fiqh), Syarakh Isaghuji (mantiq) membuktikan betapa beliau ulama yang memiliki kualifikasi keilmuan dalam berbagai bidang.

Hal ini berbeda jauh dengan masa sekarang. Bisa kita lihat pada seorang dokter yang memiliki spesifikasi keilmuan tertentu, seperti halnya dokter spesialis mata. Sangat tidak mungkin dokter spesialis mata mengetahui secara detail gejala seorang pasien yang menderita penyakit dalam (internis). Bahkan, bukan hal yang mustahil bila suatu saat ada dokter spesialis mata kiri, sehingga sang dokter tidak bisa mengobati pasien yang menderita penyakit mata kanan. Hal inilah yang juga terjadi pada ulama-ulama sekarang yang memiliki spesifikasi keilmuan tertentu, semisal nahwu. Tentu, ia akan merasa kesulitan menyelesaikan persoalan seputar fikih, ushul fikih, tafsir, dan semacamnya.

Kondisi semacam ini tentu tidak kita harapkan. Oleh karenanya, selaku generasi muda atau kaum santri harus menyiapkan diri sedini mungkin dengan menguasai berbagai disiplin ilmu, seperti nahwu, sharraf, al-qur’an, fiqh, ushul fiqh, mantiq, dan beberapa ilmu yang saling terkait dan saling mendukung. Bukankah para ulama telah mempromosikan atau menganjurkan agar kita mempelajari supaya menguasai berbagai bidang ilmu tersebut.

Nahwu
Nahwu merupakan suatu bidang ilmu (fan) yang bisa mengantarkan seseorang mampu membaca sekaligus memahami kandungan isi (pesan) al-Qur’an, Hadits, dan kitab kuning. Orang-orang biasa menyebutnya dengan ilmu alat, alat untuk bisa membaca kitab. Ulama nahwu telah lama berpesan agar ilmu ini yang harus dikuasai pertama kali, mengingat sebuah pembicaraan tak akan dapat dipaham tanpa nahwu, sebagaimana dalam sebuah nadham,
وَالنَّحْوُ أَوْلَى أَوَّلاً أَنْ يُعْلَمَا….. إذِ الْكَلاَمُ دونَهُ لَنْ يُفْهَمَا

Sharraf
Selain nahwu, sharraf juga harus dikuasai, mengingat ia merupakan gandengan atau temannya nahwu. Bila nahwu lebih menitikberatkan pada permasalahan atau pembahasan bacaan akhir kalimat, maka sharraf lebih kepada bacaan di tengah atau di awal kalimat. Jadi, kedua-duanya saling melengkapi. Oleh karenanya, tak salah bila terdapat sebuah ungkapan yang mengibaratkan keduanya sebagai sebuah keluarga (suami-istri),
النَّحْوُ أَبُو الْعِلْمِ وَ الصَّرْفُ أُمُّهَا

Mantiq
Mantiq tak ubahnya nahwu, di mana ia merupakan suatu ilmu yang bisa mengajarkan seseorang untuk berfikir dengan logika yang rasional dan benar. Dalam arti, alat yang bisa mengantarkan seseorang menarik sebuah kesimpulan (konklusi) yang bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya, ilmu ini haruslah dikuasai, karena dalam pandangan al-Ghazali, seseorang yang tidak memahami mantiq, ilmunya tak dapat dipercaya,
أَنَّ مَنْ لاَ مَعْرِفَةَ بِالْمَنْطِقِ لاَ يُوْثَقُ بِعِلْمِهِ
Fikih
Fikih adalah ilmu yang membahas dan mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Hendaknya semua orang mengerti fiqih, mengingat ia dapat menjadi penunjuk jalan kebaikan. Syekh Muhammad bin Hasan bin Abdillah sedari awal sudah mewanti-wanti agar mempelajari fiqh karena terdapat hikmah yang sangat besar,
تَفَقَّهْ فَإِنَّ الْفِقْهَ أَفْضَلُ قَائِدِ                       إِلىَ البِرِّ وَالتَّقْوَى وَأَعْدَلُ قَاصِدِ
هُوَ الْعِلْمُ الْهَادِي إِلىَ سُنَنِ الْهُدَى             هُوَ الْحِصْنُ يُنْجِي مِنْ جَمِيْعِ الشَّدَائِدِ
فَإِنَّ فَقِيْهًا وَاحِدًا مُتَوَّرِعًا                        أَشَدُّ عَلىَ الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدِ
Belajarlah fiqih, karena sesungguhnya fiqih sebaik-baik tuntunan dan selurus-lurus tujuan menuju kebaikan dan takwa
Ilmu fiqih dapat menjadi petunjuk, juga dapat menjadi benteng yang dapat menyelamatkan dari berbagai bencana
Karena sesungguhnya orang yang ahli fiqih (faqih) lagi wara’ adalah lebih berat bagi syetan dari pada seribu orang ahli ibadah (yang tidak paham fiqih) 
Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan pedoman utama umat Islam, membacanya pun menjadi ibadah (dapat pahala). Nabi pernah bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Orang yang terbaik adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Oleh karenanya, hendaknya kaum muslimin menguasai al-Qur’an secara lafdan wa ma’nan, sebagaimana para imam-imam madzhab yang sudah menguasainya semenjak kecil.

Menjadi santri ideal, dalam arti menguasai berbagai bidang ilmu sebagaimana imam-imam terdahulu sulit terwujud jika tidak disertai dengan kemauan dan kerja keras. Intinya, ada pada pribadi masing-masing sanggup tidaknya melahirkan kembali imam-imam sekaliber al-Ghazali, Zakaria al-Anshary, dan imam-imam yang lain di masa yang akan datang. Bukan hal yang mustahil mencetak dirinya menjadi seorang ulama seperti mereka, selama mampu mempraktikkan apa saja yang pernah dilakukan mereka selama menuntut ilmu (nyantri). (Tinta Qana’ah)

Sumber : http://cyberdakwah.com/2014/06/teori-menjadi-santri-ideal
0 komentar

Shalat Istikharah


Salat Istikharah adalah salah satu amalan yang diminta dari setiap muslim terutama jika dia menghadapi persoalan serius yang berdampak jauh dalam kehidupannya, seperti pernikahan dan lain sebagainya. Nabi saw. selalu melakukan salat ini dan mengajarkannya kepada para sahabat. 

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a., dia berkata, "Rasulullah saw. mengajarkan kepada kami bagaimana melakukan salat Istikharah dalam semua urusan, sebagaimana beliau mengajari kami surat-surat Alquran. Beliau bersabda,

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِاْلأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيْضَةِ ثُمَّ لْيَقُلْ: الّلهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، إِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ، اللّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أََمْرِيْ – أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِيْ وَآجِلِهِ– فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ –أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِيْ وَآجِلِهِ— فاَصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ. قَالَ: وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ

"Jika salah seorang dari kalian hendak melakukan sesuatu, maka hendaknya dia melakukan salat dua rakaat yang bukan salat fardu. Lalu hendaklah dia berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pendapat-Mu dengan ilmu-Mu, meminta tolong pada-Mu dengan kekuasaan-Mu dan memohon karunia-Mu yang agung. Karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedang aku tidak, Maha Mengetahui sedang aku tidak dan Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib. Ya Allah, jika dalam pengetahuan-Mu urusan ini adalah baik bagi diriku dalam agamaku, kehidupanku dan akhiratku, (atau beliau berkata, "urusan dunia dan akhiratku"), maka takdirkanlah hal itu padaku, mudahkanlah untukku lalu berkatilah diriku dalam urusan itu. Dan jika dalam pengetahuan-Mu urusan itu adalah tidak baik bagi diriku dalam agamaku, kehidupanku dan akhiratku (atau beliau berkata, "urusan dunia dan akhiratku"), maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkan diriku darinya, takdirkanlah padaku yang baik di mana saja lalu berkatilah diriku dengannya." Lalu hendaknya orang itu menyebutkan urusannya itu." (HR. Bukhari).

Hadis di atas menjelaskan kepada kita tata cara salat Istikharah. Yaitu melakukan salat sunah dua rakaat dengan niat melakukan salat Istikharah pada waktu yang di dalamnya tidak dilarang untuk melaksanakan salat. Maksud dari sabda Rasulullah saw., "Lalu hendaknya orang itu menyebutkan urusannya itu" adalah mengatakan dalam doanya, "Ya Allah jika Engkau mengetahui bahwa pernikahan saya dengan si Fulan adalah baik bagi diri saya dalam agama saya.....(dst). Dan jika Engkau mengetahui bahwa pernikahan saya dengannya tidak baik bagi diri saya ..... (dst)."

Dalam hal ini, Anda dipersilahkan memilih yang menurut Anda lebih baik, lalu setelah itu Anda melakukan salat Istikharah. Atau Anda dapat melakukan salat Istikharah untuk sejumlah pemuda yang melamar itu, jika Anda tidak dapat menentukan mana yang baik menurut Anda.

Salat Istikharah tidak mempunyai hasil tertentu yang dapat diketahui. Namun, ia merupakan bentuk penyerahan segala urusan kepada Allah. Jika sesuatu itu baik, maka Allah akan memudahkan urusan itu untuk Anda. Jika tidak demikian, maka Allah akan menjauhkannya dari Anda dan menetapkan sesuatu yang baik buat Anda serta memberkati Anda di dalamnya.

Wallahu subhânahu wa ta'âlâ a'lam.


Diambil dari kumpulan fatwa No. 419 tahun 2003 Mufti Negara Mesir : Mufti Agung Prof. Dr. Ali Jum'ah Muhammad

Sumber Link Klik Disini
0 komentar

Hukum Memakai Tasbih Untuk Berzikir


Berzikir dengan menggunakan tasbih ataupun alat lainnya untuk menghitung jumlah zikir adalah perbuatan yang disyariatkan dan diakui oleh Nabi saw.. Perbuatan ini juga dilakukan oleh kalangan salaf tanpa ada seorang pun yang mengingkarinya.

1. Diriwayatkan dari Shafiyah binti Huyay r.a., dia berkata, "Rasulullah saw. mengunjungi saya ketika saya sedang berzikir menggunakan empat ribu biji kurma. Saya berkata, "Saya bertasbih dengan biji-biji kurma ini." Maka beliau bersabda, "Maukah kamu kuajari sesuatu yang dapat memberikan pahala lebih banyak dari bertasbih yang kamu lakukan?" "Tentu saja. Ajarilah aku." Beliau lalu bersabda,
سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ

"Maha suci Allah sesuai jumlah makhluk-Nya." (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Hakim serta disepakati oleh adz-Dzahabi).

2. Diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash r.a. bahwa dia dan Rasulullah saw. mengunjungi seorang wanita yang sedang bertasbih dengan menggunakan biji-biji kurma. Lalu beliau bersabda,
أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا أَوْ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الأَرْضِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خلق بَيْنَ ذَلِكَ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ مِثْلَ ذَلِكَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مِثْلُ ذَلِكَ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ

"Maukah engkau kuberitahu sesuatu yang lebih mudah bagimu dan lebih afdal dari perbuatan ini?" Lalu beliau melanjutkan, "Maha suci Allah sesuai jumlah makhluk yang Dia ciptakan di langit. Maha suci Allah sesuai jumlah makhluk yang Dia ciptakan di bumi. Maha suci Allah sesuai jumlah makhluk yang Dia ciptakan di antara keduanya. Maha suci Allah sesuai seluruh makhluk yang Dia ciptakan. Allah Maha Besar seperti itu juga. Segala puji bagi Allah seperti itu juga. Tiada tuhan selain Allah seperti itu juga. Tiada daya dan upaya selain dengan Allah seperti itu juga." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi –dia menghasankannya--, Nasa`i dan Ibnu Majah serta dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim).

3. Diriwayatkan dari Qasim bin Abdurrahman, dia berkata, "Abu Darda` mempunyai sejumlah biji kurma yang dia simpan di dalam sebuah kantung. Jika dia melaksanakan salat di pagi hari, dia akan mengeluarkannya satu per satu untuk bertasbih hingga habis." (HR. Ahmad dalam kitab az-Zuhd dengan sanad shahih).

4. Diriwayatkan dari Abu Nadhrah al-Ghifari, dia berkata, "Seorang syaikh dari Thufawah bercerita kepadaku, "Saya bertamu kepada Abu Hurairah di Madinah. Saya tidak pernah menemukan seorang sahabat Rasulullah saw. yang lebih berusaha untuk menghormati tamunya melebihi beliau. Pada suatu hari, ketika saya sedang berada di rumahnya, beliau sedang berbaring di atas ranjang. Di sampingnya terdapat kantung yang berisi kerikil atau biji kurma yang dia gunakan untuk menghitung jumlah bacaan tasbih. Di sisi bawah ranjang itu terdapat seorang budak perempuan hitam miliknya. Jika kantung itu telah habis isinya, dia lalu memberikannya kepada budaknya itu. Budak itu lalu mengumpulkan isi kantung itu dan memasukkannya ke dalamnya lalu menyerahkannya kembali kepada beliau." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi –dia menghasankannya—dan Nasa`i).

5. Diriwayatkan dari Nu'aim bin Muharrar bin Abu Hurairah dari kakeknya, Abu Hurairah r.a., bahwa dia dahulu mempunyai sebuah tali yang mempunyai seribu ikatan. Dia tidak tidur sampai bertasbih dengan tali itu dahulu. (HR. Abdullah bin Imam Ahmad dalam kitab Zawâid az-Zuhd dan Abu Nu'aim dalam Hilyah al-Auliyâ`).

Hal itu juga diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash, Abu Said al-Khudri, Abu Shafiyah maula Rasulullah saw., Fatimah binti Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhum serta para sahabat dan tabi'in lainnya.

Sejumlah ulama juga ada yang menyusun kitab yang berisi anjuran melakukan zikir dengan memakai tasbih, di antaranya adalah al-Hafizh as-Suyuthi dalam kitabnya al-Minhah fis Sibhah, Syaikh Muhammad bin 'Allan ash-Shiddiqi dalam Îqâd al-Mashâbîh li Masyru'iyyati Ittikhâdzi al-Masâbîh, dan al-Allamah Abu al-Hasanat al-Laknawi dalam kitabnya Nuzhat al-Fikr fî Sibhat adz-Dzikr.

Al-Hafizh as-Suyuthi berkata setelah menyebutkan hadis dan atsar di atas, "Jika menggunakan tasbih tidak lebih dari sekedar ingin menyamai para tokoh di atas, mengikuti perilaku mereka dan mengharap keberkahan dari mereka, maka alasan ini pun cukup untuk dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting. Lalu bagaimana jika tasbih itu mengingatkan kita kepada Allah ta'ala, karena kebanyakan orang jika melihat tasbih akan langsung ingat (berzikir) kepada Allah. Ini merupakan salah satu faedahnya yang paling utama. Karena itulah, sebagian salaf menamakannya sebagai tasbih. Tidak pernah dinukil, baik dari kalangan salaf maupun khalaf (ulama belakangan), larangan menghitung zikir dengan tasbih. Bahkan, sebagian besar mereka justru menggunakannya untuk menghitung zikir dan tidak menganggapnya sebagai hal yang makruh."

Wallahu subhânahu wa ta'âlâ a'lam.
Diambil dari kumpulan fatwa No. 2724 tahun 2004 Mufti Negara Mesir : Mufti Agung Prof. Dr. Ali Jum'ah Muhammad


Sumber Link Klik Disini
0 komentar

Menambah Kata "Sayyidina" Sebelum Nama Nabi Muhammad Saw


Nabi Muhammad saw. adalah sayyid (penguhulu/pemimpin) seluruh makhluk. Hal ini berdasarkan ijmak seluruh kaum muslimin. Nabi saw. sendiri telah menjelaskan hal itu dalam sabda beliau,

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ
"Saya adalah sayyid (penghulu) anak Adam."
    
Dalam riwayat lain,
أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ
"Saya adalah sayyid (penghulu) manusia." (Muttafaq alaih).

Di dalam Alquran, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menghormati dan mengagungkan beliau. Alalh berfirman,
"Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang." (Al-Fath: 8-9).

Salah satu bentuk penghormatan dan pengagungan ini adalah dengan menyebutnya sebagai sayyid. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Qatadah dan Suddi, "Makna tuwaqqirûhu (memuliakannya) adalah tusawwidûhu (mensayyidkannya/ memuliakannya)."

Para sahabat juga telah menggunakan kata ini dalam perbincangan mereka. Diriwayatkan dari Sahl bin Hunaif r.a., dia berkata, "Pada suatu hari kami melewati suatu aliran air. Saya lalu menceburkan diri ke dalamnya dan mandi di sana. Ketika selesai saya terkena demam. Keadaan saya itu lalu diceritakan kepada Rasulullah saw., maka beliau bersabda,

((مُرُوْا أَبَا ثَابِتٍ يَتَعَوَّذُ))، قُلْتُ: يَا سَيِّدِي وَالرُّقَى صَالِحَةٌ؟ قَالَ: ((لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ فِيْ نَفْسٍ أَوْ حُمَةٍ أَوْ لَدْغَةٍ))

"Suruhlah Abu Tsabit untuk berta'awudz." Lalu saya bertanya kepada beliau, "Wahai Sayyidi, apakah ruqyah itu bermanfaat?" Beliau menjawab, "Tidak boleh melakukan ruqyah kecuali karena 'ain, sengatan hewan beracun dan sengatan kalajengking." (HR. Ahmad dan Hakim. Hakim berkata, "Sanadnya shahih.").

Para sahabat juga menggunakan kata "sayyid" ini dalam lafal salawat yang mereka ucapkan. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud r.a., dia berkata, "Jika kalian mengucapkan salawat kepada Rasulullah saw. maka gunakanlah kata-kata yang baik. Karena kalian tidak tahu mungkin saja salawat itu dihadapkan kepada beliau." Para murid Ibnu Mas'ud lalu berkata, "Kalau begitu ajarilah kami kata-kata yang tepat untuk bersalawat." Ibnu Mas'ud menjawab, "Katakanlah, 'Ya Allah, jadikanlah salawat-Mu, rahmat-Mu dan keberkahan-Mu untuk sayyid (penghulu) para Rasul, pemimpin orang-orang yang bertakwa dan penutup para nabi, Muhammad, hamba-Mu dan rasul-Mu, pemimpin kebaikan, panglima kebaikan, rasul pembawa rahmat,...."
(HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Mundziri).

Riwayat yang sama juga diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. oleh Ahmad bin Mani' dalam musnadnya, dan dia menghukuminya sebagai hadis hasan dengan syawâhidnya (penguat-penguatnya).

Adapun penyebutan kata sayyid untuk para makhluk yang lain selain Nabi saw., maka hal itu juga disyariatkan berdasarkan nash Alquran, Sunnah dan perbuatan umat secara terus menerus tanpa ada pengingkaran terhadapnya. Dalam Alquran, penjelasan mengenai hal ini disebutkan dalam firman Allah,

"Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh." (Âli 'Imrân: 39).

Imam Qurthubi berkata, "Ayat ini menjelaskan kebolehan penamaan seseorang dengan kata sayyid, sebagaimana kebolehan pemberian nama seseorang dengan aziz atau karim."

Disebutkan juga dalam Alquran,

"Kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu". (Yûsuf: 25).

Sedangkan dalam Sunnah, Nabi saw. pernah bersabda mengenai Hasan dan Husein radhiyallahu 'anhumâ,

الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ

"Hasan dan Husein adalah sayyid (penghulu) para pemuda surga."

(HR. Tirmidzi dan Hakim. Keduanya menshahihkan hadis ini).

Rasulullah saw. juga pernah bersabda mengenai Hasan bin Ali,

إِنَّ ابْنِيْ هَذَا سَيِّدٌ

"Sesungguhnya cucuku ini adalah sayyid." (HR. Bukhari).

Juga sabda Rasulullah saw. kepada Fatimah a.s.,

يَا فَاطِمَةُ أَلاَ تَرْضَيْنَ أَنْ تَكُوْنِي سَيِّدَةَ نِسَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ

"Wahai Fatimah, apakah kamu tidak rela untuk menjadi sayyidah (penghulu) para wanita surga." (HR. Bukhari).

Sabda beliau mengenai Saad bin Muadz r.a.,

قُومُوْا إِلَى سَيِّدِكُمْ

"Sambutlah sayyid (pemimpin) kalian." (HR. Bukhari).

Rasulullah saw. juga pernah bersabda kepada Bani Salamah,

((مَنْ سَيِّدُكُمْ يا بَنِي سَلمة؟)) قالوْا: سَيِّدُنا جَدُّ بْنُ قَيْسٍ، عَلَى أَنَّا نُبَخِّلُهُ، قال: (( وَأَيُّ دَاءٍ أَدْوَى مِنَ الْبُخْلِ؟ بَلْ سَيِّدُكم عَمْرُو بْنُ الجَمُوْحِ))

"Siapakah sayyid (pemimpin) kalian, wahai Bani Salamah?"Mereka menjawab, "Sayyid kami adalah Jadd bin Qais. Hanya saja kami menganggapnya sebagai orang yang pelit."Beliau berkata, "Penyakit mana yang lebih merusak dari pelit? Yang tepat, sayyid kalian adalah 'Amr bin Jamuh." (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad).

Dalam riwayat lain,

سَيِّدُكُمْ بِشْرُ بْنُ الْبَرَاءِ بْنِ مَعْرُوْرٍ

"Sayyid kalian adalah Bisyr bin Barra` bin Ma'rur." 

(HR. Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabîr).

Dan masih banyak lagi dalil yang menyebutkan mengenai kebolehan menyebut sayyid kepada para makhluk.

Adapun perbuatan umat yang terus menerus, misalnya adalah ucapan Umar mengenai Abu Bakar dan Bilal, "Abu Bakar adalah sayyid kami dan telah memerdekakan sayyid kami." (HR. Bukhari).

Juga perkataan Ali mengenai anaknya, Hasan, "Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid sebagaimana dikatakan oleh Nabi saw." (HR. Abu Dawud).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa dia berkata kepada Hasan bin Ali, "Wahai sayyidku." Lalu seseorang bertanya padanya, "Kamu mengatakan, 'Wahai sayyidku?' Abu Hurairah menjawab, "Saya mendengar Rasulullah saw. mengatakan bahwa dia adalah sayyid." (HR. Nasa`i dalam 'Amal al-Yaum wal-Lailah).

Penyebutan-penyebutan ini dengan tanpa adanya pengingkaran dari para sahabat yang lain menjadi ijmak sukuti. Danijmak sukuti itu adalah salah satu dalil syarak, sebagaimana dijelaskan dalam ilmu Ushul Fikih. Sejak zaman dahulu, umat Islam telah terbiasa memberi gelar sayyid kepada para keluarga Nabi saw. (ahlul bait) yang berasal dari keturunan Hasan dan Husein a.s.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud r.a, dia berkata, "Sesuatu yang menurut kaum muslimin adalah perbuatan baik, maka menurut Allah itu adalah baik. Dan sesuatu yang menurut kaum muslimin adalah perbuatan jelek, maka menurut Allah itu adalah jelek."
(HR. Ahmad).

Dengan demikian, penyebutan kata sayyid kepada para ahlul bait dan para wali Allah adalah perbuatan yang disyariatkan, bahkan dianjurkan karena mengandung sikap sopan santun, penghormatan dan pemuliaan terhadap mereka. Nabi saw. pernah bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih kecil serta mengetahui hak ulama."

(HR. Ahmad dan Hakim serta dia shahihkan dari Ubadah bin Shamit r.a.).

Wallahu subhânahu wa ta'âlâ a'lam.

Diambil dari kumpulan fatwa No. 2724 tahun 2004 Mufti Negara Mesir : Mufti Agung Prof. Dr. Ali Jum'ah Muhammad

Sumber Link Klik Disini
0 komentar

Qunut Subuh



Hukum Qunut Shubuh

Qunut Shubuh termasuk sunnah Nabi. Hal itu dikatakan oleh mayoritas ulama salaf; shahabat, tabiin dan ulama-ulama setelahnya dari berbagai negeri.

Pada sebuah hadits dari Anas bin Malik Radiyallahu ‘anhu disebutkan, bahwasanya Nabi Sallallahu alaihi wa salam selama satu bulan penuh membaca qunut mendoakan atas mereka (orang kafir), kemudian beliau meninggalkannya. Adapun pada shalat Shubuh, beliau selalu qunut sampai meninggal dunia. Ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh para huffadz, seperti yang dikatakan oleh Imam Nawawi dan selainnya.

Ulama madzhab Syafii dan Maliki dalam ‘qaul masyhur’nya mengambil hadits tersebut. Menurut mereka, qunut Shubuh hukumnya sunah dalam keadaan apapun. Adapun tentang Nabi meninggalkan qunut, mereka memahaminya bahwa yang ditinggalkan adalah mendoakan kaum tertentu, bukan qunutnya.

Sementara itu, ulama Madzhab Hanafi dan Hambali mengatakan bahwa qunut pada shalat Shubuh hanya dilakukan ketika terjadi musibah yang menimpa kaum muslimin. Ini disebut qunut nazilah. Jika tidak, maka qunut tidaklah disunahkan.

Ketika kaum muslimin terkena musibah, seperti wabah penyakit, banjir, tertawannya ulama oleh kaum kafir, dan lain sebagainya, maka ulama sepakat bahwa qunut disunahkan. Namun terjadi perbedaan pendapat; ulama Madzhab Maliki mengkhususkan pada shalat Shubuh saja. Adapun ulama yang lainnya, seperti Madzhab Hanafi dan ‘qaul shahih’ Madzhab Syafii mengatakan bahwa qunut dalam keadaan seperti itu dilakukan dalam semua shalat fardu.

Kesimpulannya, ulama berbeda pendapat tentang qunut ketika kaum muslimin tidak terkena musibah. Namun jika sedang terkena musibah, para ulama sepakat akan kesunahan qunut pada shalat Shubuh. Adapun pada shalat selain Shubuh, mereka berbeda pendapat lagi.

Jika kita melihat kaum muslimin saat ini banyak yang tertimpa bencana, sebagian muslimin yang lain diserang oleh kaum kafir dari segala penjuru, maka hal itu menarik kita untuk memperbanyak doa dan mendekat kepada Allah, supaya saudara-saudara kita lekas diangkat bencana dan musibahnya.

Hal itu jika kita bersandar pada pendapat bahwa qunut nazilah tidak terbatas waktunya. Dan itu akan berbeda jika bersandar pada pendapat yang membatasi qunut nazilah tidak sampai melebihi satu bulan atau 40 hari.

Barang siapa yang melakukan qunut maka dia telah mengikuti salah satu madzhab ulama. Adapun bagi orang yang tidak qunut, maka dia tidak boleh mengingkari orang yang qunut, karena pada dasarnya tidak diperbolehkan mengingkari hukum yang di dalamnya terdapat perbedaan pendapat. Dan sesungguhnya ijtihad itu tidak dibatalkan oleh ijtihan lain.

Mengikuti ulama adalah perintah Allah, seperti dikatakan dalam firman-Nya: “…Maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

-Darul Ifta Mesir
Sumber: Koran Shaut al-Azhar edisi 27 Jumadil Ula 1435 H

Sumber Suara Al-Azhar
0 komentar

AQIDAH 50


بسم الله الرحمن الرحيم

 WAJIB BAGI MUKALLAF MENGETAHUI AQIDAH YANG LIMA PULUH, YANG DI BAGI MENJADI TIGA BAHAGIAN DAN DISEBUT JUGA DENGAN HUKUM ‘AQAL

1. WÃJIB : Mãlã Yatasowwaru Fil ‘Aqli ‘Adamuhu
(Barang yang tidak diterima pada Akal oleh tiadanya)

2. MUSTAHĨL : Mãlã Yatasowwaru Fil ‘Aqli Wujũduhu
( Barang yang tidak diterima pada Akal oleh adanya )

3. JÃIZ : Mã Yasihhu Fil ‘Aqli Wujũduhũ Tãrotan Wa ‘Adamuhu Ukhro.
( Barang yang sah pada Akal oleh adanya terkadang dan tiadanya yang lain )


SIPAT YANG WAJIB BAGI ALLAH ADA DUA PULUH SIFAT

1. WUJŨD, Artinya : Ada
Dalilnya : اَللهُ الَّذِى خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَمَابَيْنَهُمَا

2. QIDAM, Artinya : Sedia
Dalilnya : هُوَ اْلأَوَّلُ وَاْلأخِرُ

3. BAQÕ`, Artinya : Kekal
Dalilnya : وَيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُوالْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

4. MUKHÕLAFATU LILHAWÃDISI,  Artinya : Bersalah-salahan Allah Ta’ãla dengan segala yang baharu
Dalilnya : لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ

5. QIYÃMUBINNAFSI, Artinya : Berdiri Allah Ta‘ãla dengan sendirinya
Dalilnya : إِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ

6. WAHDÃNIYYAT,  Artinya : Esa
Dalilnya : قُلْ هُوَاللهُ أَحَدٌ

7. QUDRAT, Artinya : Kuasa
Dalilnya : إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

8. IRÕDAT, Artinya : Menentukan
Dalilnya : فَعَّالٌ لِمَا يُرِيْدُ

9. ‘ILMU, Artinya : Mengetahui
Dalilnya : وَاللهُ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْمٌ

10. HAYÃT, Artinya : Hidup
Dalilnya : وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِى لاَ يَمُوْتُ

11. SAMA’, Artinya : Mendengar 
Dalilnya : إِنَّ اللهَ سِمِيْعٌ عَلِيْمٌ

12. BASOR, Artinya : Melihat
Dalilnya : وَاللهُ بِصِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

13. KALÃM, Artinya : Berkata-kata
Dalilnya : وَكَلَّمَ اللهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمَا

14. KAUNUHU QÕDIRON, Artinya : Keadaan Allah Ta‘ãla yang Kuasa 
Dalilnya : Dalil Qudrat

15. KAUNUHU MURĨDAN, Artinya : Keadaan Allah Ta‘ãla yang Menentukan
Dalilnya : Dalil Irodat

16. KAUNUHU ‘ÃLIMAN, Artinya : Keadaan Allah Ta‘ãla yang Mengetahui
Dalilnya : Dalil Ilmu

17. KAUNUHU HAYYAN, Artinya : Keadaan Allah Ta‘ãla yang Hidup
Dalilnya : Dalil Hayat

18. KAUNUHU SAMĨ’AN, Artinya : Keadaan Allah Ta‘ãla yang Mendengar
Dalilnya : Dalil Sama’

19. KAUNUHU BASĨRON, Artinya : Keadaan Allah Ta‘ãla yang Melihat
Dalilnya : Dalil Bashor

20. KAUNUHU MUTAKALLIMAN, Artinya : Keadaan Allah Ta‘ãla yang Berkata-kata
Dalilnya : Dalil Kalam 


SIFAT YANG MUSTAHIL BAGI ALLAH ADA DUA PULUH SIFAT

1. ‘ADAM, Artinya : Tiada

2. HUDŨTS, Artinya : Baharu

3. FANÃ`, Artinya : Binasa

4. MUMÃSALATULILHAWÃDISI, Artinya : Menyerupai Allah Ta‘ãla dengan Segala yang Baharu

5. AL-IHTIYÃJU ILAL MAHALLI WAL MUKHOSSISI, Artinya : Berhajat Allah Ta‘ãla kepada Tempat Dan yang Menjadikan

6. TA‘ADDUD, Artinya : Berbilang-bilang 

7. ‘AJZUN, Artinya, : Lemah

8. KARÕHATUN, Artinya : Terpaksa 

9. JAHLUN, Artinya : Bodoh

10. MAUTUN, Artinya : Mati

11. SOMAMUN, Artinya : Tuli

12. ‘UMYUN, Artinya : Buta

13. BUKMUN, Artinya : Bisu

14. KAUNUHU ‘ÃJIZAN, Artinya : Keadaan Allah Ta‘ãla yang lemah

15. KAUNUHU KÃRIHAN, Artinya : Keadaan Allah Ta‘ãla yang Terpaksa

16. KAUNUHU JÃHILAN, Artinya : Keadaan Allah Ta‘ãla yang bodoh

17. KAUNUHU MAYYITAN, Artinya : Keadaan Allah Ta‘ãla yang mati

18. KAUNUHU ASOMMA, Artinya : Keadaan Allah Ta‘ãla yang Tuli

19. KAUNUHU A’MÃ, Artinya : Keadaan Allah Ta‘ãla yang Buta

20. KAUNUHU ABKAMA, Artinya : Keadaan Allah Ta‘ãla yang Bisu


SIFAT YANG JAIZ BAGI ALLAH ADA SATU SIFAT


“Fi’lukullimumkinin Au Tarkuhu”

( Artinya : Memperbuat Tiap-Tiap yang mungkin atau Meninggalkannya )


SIFAT YANG WAJIB BAGI ROSUL ADA EMPAT SIFAT

1. SIDIQ, Artinya : Benar

2. AMÃNAH, Artinya : Amanat atau Kepercayaan

3. TABLĨGH, Artinya : Menyampaikan

4. FATÕNAH, Artinya : Cerdas


SIFAT YANG MUSTAHIL BAGI ROSUL ADA EMPAT SIFAT

1. KAZIB Artinya, : Dusta

2. KHIÃNAT Artinya, : Khianat atau Melanggar Larangan Tuhan

3. KITMÃN Artinya, : Menyembunyikan

4. BALÃDAH Artinya, : Bodoh


SIFAT YANG JAIZ BAGI ROSUL ADA SATU SIFAT

“Al-A’rõdul Basyariyyatullati Lã Tuãddi Ilã Naqsin Fîmarõtibihimul ‘Aliyyati Kalmarodi Wanahwihi”

( Berperangai seperti Manusia yang tidak membawa kekurangan pada martabat mereka yang tinggi seperti sakit dan seumpamanya )


NABI DAN ROSUL YANG WAJIB KITA KETAHUI ADA DUA PULUH LIMA NABI

1. Adam
2. Idrĩs
3. Nũh
4. Hũd
5. Shõlih
6. Ibrõhim
7. Lũth
8. Ismã’ĩl
9. Ishaq
10. Ya’qũb
11. Yusũf
12. Ayyũb
13. Syu’aib
14. Hãrũn
15. Musã
16. Ilyasa’
17. Dzul Kifli
18. Dãud
19. Sulaiman
20. Ilyas
21. Yunũs
22. Zakaria
23. Yahya
24. ‘Ĩsa
25. Muhammad “Shollallãhu ‘Alaihi Wasallam”


MALAIKAT YANG WAJIB KITA KETAHUI ADA SEPULUH

1. JIBRĨL Tugasnya : Menyampaikan Wahyu

2. MĨKÃĨL Tugasnya : Menurunkan Hujan

3. ISRÕFĨL Tugasnya : Meniup Sangkakala

4. ‘IZRÕĨL Tugasnya : Mencabut Nyawa

5. MUNKAR Tugasnya : Menanyai Mayit dalam Qubur

6. NAKĨR Tugasnya : Menanyai Mayit dalam Qubur

7. ROQĨB Tugasnya : Mencatat ‘Amal yang Baik

8. ‘ATĨD Tugasnya : Mencatat ‘Amal yang Jelek

9. MÃLIK Tugasnya : Menjaga Pintu Neraka

10. RIDWÃN Tugasnya : Menjaga Pintu Syurga


KITAB-KATAB YANG DITURUNKAN KEPADA NABI DAN ROSUL

1. TAURAT : Yaitu Diturunkan kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam

2. ZABUR : Yaitu Diturunkan kepada Nabi Daud ‘Alaihissalam

3. INJIL : Yaitu Diturunkan kepada Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam

4. AL-QUR`AN : Yaitu Diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W


SUHUF-SUHUF YANG DITURUNKAN KEPADA NABI DAN ROSUL


“ Suhuf ialah Lembaran yang berisikan Firman Allah yang diturunkan kepada :


1. NABI SYIS : Yaitu 60 Suhuf

2. NABI IBROHIM : Yaitu 30 Suhuf

3. NABI MUSA : Yaitu 10 Suhuf


NABI – NABI ULUL ‘AZMI ADA LIMA

1. NABI MUHAMMAD

2. NABI IBRÕHIM

3. NABI MUSA

4. NABI ‘ĨSA

5. NABI NŨH


WAJIB BAGI SESEORANG MENGETAHUI TURUNANNYA DARI PIHAK BAPAKNYA DAN IBUNYA 


TURUNANNYA DARI PIHAK BAPAKNYA

Sayyiduna MUHAMMAD anak ‘ABDULLÃH anak ‘ABDUL MUTTOLIB anak HÃSYIM anak ‘ABDU MANÃF anak QUSOI anak KILÃB atau HAKĨM anak MURROH anak KA’AB anak LUAI anak GHÕLIB anak FIHR atau QURAIYS anak MÃLIK anak NADOR anak KINÃNAH anak KHUZAIMAH anak MUDRIKAH anak ILYÃS anak MUDOR anak NIZAR anak MA’AD 
anak ‘ADNÃN


TURUNANNYA DARI PIHAK IBUNYA

Sayyiduna MUHAMMAD anak AMINAH anak WAHAB anak ‘ABDU MANÃF anak ZUHROH anak KILÃB
Dan Berhimpun sertanya Nabi MUHAMMAD Shollallãhu ‘Alaihi Wasallam pada Datuknya KILÃB 


ANAK NABI ADA TUJUH TIGA LAKI-LAKI DAN EMPAT PEREMPUAN

1. Sayyiduna Qõsim 

2. Sayyidatuna Zainab

3. Sayyidatuna Ruqayyah

4. Sayyidatuna Fãtimah

5. Sayyidatuna Ummu Kulsũm

6. Sayyiduna ‘Abdullah yang digelar Toyyib dan Tõhir

7. Sayyiduna Ibrõhim anak Mãriah Qibtiyyah


ISTERI NABI ADA SEBELAS

1. Sayyidatuna Khodĩjah anak Khuwailid

2. Sayyidatuna ‘Aisyah anak Abũ Bakar

3. Sayyidatuna Saudah anak Zam’ah

4. Sayyidatuna Hafsoh anak Umar bin Khottõb

5. Sayyidatuna Hindun “Ummu Salamah” anak Abũ Umayyah

6. Sayyidatuna Romlah "Ummu Habibah” anak Abũ Sufyãn

7. Sayyidatuna Zainab anak Jahsyi

8. Sayyidatuna Zainab anak Khuzaimah

9. Sayyidatuna Maimunah anak Harsul Hilãliyyah

10. Sayyidatuna Juwairiyyah anak Hãris

11. Sayyidatuna Sofiyyah anak Huyay


“ Nabi ketika wafat meninggalkan Sembilan Isteri, Khodĩjah dan Zainab binti Khuzaimah meninggal ketika Nabi masih hidup”

SILSILAH SINGKAT NABI

- Nabi Muhammad dilahirkan di Negeri Mekkah pada hari Isnen, Tanggal 12 Robi’ul Awal, bertepatan dengan Tanggal 20 April Tahun 571 Masehi dan disebut juga dengan Tahun Gajah”

- Ketika dalam kandungan Ayahnya Meninggal
- Ketika Umurnya 6 Tahun Ibunya Meninggal
- Ketika Umurnya 8 Tahun Kakeknya Meninggal

- Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul yaitu pada umur 40 tahun. Wahyu yang pertama diterima yaitu: 
إِقْرَءْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ، خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ، إِقْرَءْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ، الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ اْلإِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ.


- Nabi Muhammad wafat dikota Madinah, pada hari Isnen, Tanggal 13 Robi’ul Awal, Tahun 11 Hijriyyah. Bertepatan dengan Tanggal 8 Juni Tahun 632 Masehi dalam usia 63 Tahun.

Wallãhu A’lamu Bissowab



كُلُّ مَا خَطَرَ بِبَالِكَ فَاللهُ مُخَالِفٌ بِذَالِكَ
"  Apapun Yang terlintas di Hatimu, maka Allah Berbeda dengan demikian itu”

0 komentar

PENDAPAT 4 MADZHAB MENGENAI QUNUT SHUBUH

Para Fuqaha’ berbeda pendapat mengenai qunut di waktu subuh yaitu:

1. Hanafiyyah (pengikut imam Abu Hanifah), Hanabilah (pengikut imam Ahmad bin Hambal), Dan imam assaury, mereka mengatakan bahwa qunut tidak disyare’atkan[1]. Imam Abu Hanifah mengatakan qunut diwaktu subuh adalah Bid’ah[2]. Para Ulama dari Hanabilah mengatakan dimakruhkan qunut diwaktu Shubuh[3].

2. Malikiyyah (pengikut imam Malik) atas qaul Masyhur  bahwasanya qunut diwaktu subuh Mustahab (Sunnah)[4]

3. Syafi’iyyah (pengikut imam Syafi’i) bahwasanya qunut diwaktu subuh adalah Sunnah. Imam Nawawi berkata: Qunut disisi kami adalah Sunnah Muakkad[5]. Waktunya yaitu pada ketika rakaat kedua setelah I’tidal.


 _______________________________________
[1]. Al-Mughni ( Ibnu Qudamah) 2/585,Kisyaful Qina 1/493, Raudatul Thalibin 1/254, al-Majmu’ linnawawi 3/494, Badai’unnashoi’1/273, Syarh Ma’anil Atsar 1/241 dan Majma’ Anhar 1/129.
[2]. Majma’ Anhar 1/129
[3]. Syarah Muntahal Irodat 1/228, KisyafulQina’ 1/493
[4]. Mawahibul Jalil 1/539, Manhul Jalil1/157, Hasyiah ‘Adawy  ‘ala Kifayatilthalibi al-Rubbany 1/239, al-Qowaninul Fiqhiyyah 66.
[5]. Al-Adzkar linnawawy 86
0 komentar

Teks Nazham Aqidatul Awal

AQIDATUL AWWAM

الشيخ أحمد المرزوقي المالكي
Asy-Syeikh Ahmad Al Marzuqi Al Maliki

أَبـْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ وَالـرَّحْـمَنِ وَبِـالـرَّحِـيـْمِ دَائِـمِ اْلإِحْـسَانِ
Saya memulai dengan nama Alloh, Dzat yang maha pengasih, dan Maha Penyayang yang senatiasa memberikan kenikmatan tiada putusnya

فَالْـحَـمْـدُ ِللهِ الْـقَدِيْمِ اْلأَوَّلِ اْلآخِـرِ الْـبَـاقِـيْ بِلاَ تَـحَـوُّلِ
Maka segala puji bagi Alloh Yang Maha Dahulu, Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir, Yang Maha Tetap tanpa ada perubahan

ثُـمَّ الـصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ سَرْمَـدَ ا عَـلَـى الـنَّـبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ وَحَّدَا
Kemudian, semoga sholawat dan salam senantiasa tercurahkan pada Nabi sebaik-baiknya orang yang mengEsakan Alloh

وَآلِهِ وَصَـحْـبِهِ وَمَـنْ تَـبِـعْ سَـبِـيْلَ دِيْنِ الْحَقِّ غَيْرَ مُـبْـتَدِعْ
Dan keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jalan agama secara benar bukan orang-orang yang berbuat bid’ah

وَبَـعْـدُ فَاعْلَمْ بِوُجُوْبِ الْمَعْرِفَـهْ مِنْ وَاجِـبٍ ِللهِ عِـشْرِيْنَ صِفَـهْ
Dan setelahnya ketahuilah dengan yakin bahwa Alloh itu mempunyai 20 sifat wajib

فَـاللهُ مَـوْجُـوْدٌ قَـدِيْمٌ بَاقِـي مُخَـالِـفٌ لِلْـخَـلْقِ بِاْلإِطْـلاَقِ
Alloh itu Ada, Qodim, Baqi dan berbeda dengan makhlukNya secara mutlak

وَقَـائِمٌ غَـنِـيْ وَوَاحِـدٌ وَحَيّ قَـادِرٌ مُـرِيـْدٌ عَـالِمٌ بِكُلِّ شَيْ
Berdiri sendiri, Maha Kaya, Maha Esa, Maha Hidup, Maha Kuasa, Maha Menghendaki, Maha Mengetahui atas segala sesuatu

سَـمِـيْعٌ الْبَـصِيْـرُ والْمُتَكَلِـمُ لَهُ صِفَـاتٌ سَـبْـعَـةٌ تَـنْـتَظِمُ
Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Berbicara, Alloh mempunyai 7 sifat yang tersusun

فَـقُـدْرَةٌ إِرَادَةٌ سَـمْـعٌ بَصَـرْ حَـيَـاةٌ الْـعِلْـمُ كَلاَمٌ اسْـتَمَرْ
yaitu Berkuasa, Menghendaki, Mendengar, Melihat, Hidup, Mempunyai Ilmu, Berbicara secara terus berlangsung

وَ جَـائـِزٌ بِـفَـضْـلِهِ وَ عَدْلِهِ تَـرْكٌ لِـكُـلِّ مُمْـكِـنٍ كَفِعْلِهِ
Dengan karunia dan keadilanNya, Alloh memiliki sifat boleh (wenang) yaitu boleh mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya

أَرْسَـلَ أَنْـبِيَا ذَوِي فَـطَـانَـهْ بِالصِّـدْقِ وَالـتَّـبْلِـيْغِ وَاْلأَمَانَهْ
Alloh telah mengutus para nabi yang memiliki 4 sifat yang wajib yaitu cerdas, jujur, menyampaikan (risalah) dan dipercaya

وَجَـائِزٌ فِي حَقِّـهِمْ مِنْ عَـرَضِ بِغَـيْـرِ نَقْصٍ كَخَفِيْفِ الْمَـرَضِ
Dan boleh didalam hak Rosul dari sifat manusia tanpa mengurangi derajatnya,misalnya sakit yang ringan
عِصْـمَـتُهُمْ كَسَـائِرِ الْمَلاَئِـكَهْ وَاجِـبَـةٌ وَفَـاضَلُوا الْـمَـلاَئِكَهْ
Mereka mendapat penjagaan Alloh (dari perbuatan dosa) seperti para malaikat seluruhnya. (Penjagaan itu) wajib bahkan para Nabi lebih utama dari para malaikat
وَالْـمُسْـتَحِيْلُ ضِدُّ كُـلِّ وَاجِبِ فَـاحْـفَظْ لِخَمْسِيْنَ بِحُكْمٍ وَاجِبِ
Dan sifat mustahil adalah lawan dari sifat yang wajib maka hafalkanlah 50 sifat itu sebagai ketentuan yang wajib
تَـفْصِيْـلُ خَمْسَةٍ وَعِشْرِيْـنَ لَزِمْ كُـلَّ مُـكَـلَّـفٍ فَحَقِّقْ وَاغْـتَنِمْ
Adapun rincian nama para Rosul ada 25 itu wajib diketahui bagi setiap mukallaf, maka yakinilah dan ambilah keuntungannya

هُمْ آدَمُ اِدْرِيْسُ نُوْحٌ هُـوْدٌ مَـعْ صَالِـحْ وَإِبْرَاهِـيْـمُ كُـلٌّ مُـتَّبَعْ
Mereka adalah Nabi Adam, Idris, Nuh, Hud serta Sholeh, Ibrahim ( yang masing-masing diikuti berikutnya)

لُوْطٌ وَاِسْـمَاعِيْلُ اِسْحَاقٌ كَـذَا يَعْـقُوْبُ يُوْسُفٌ وَأَيـُّوْبُ احْتَذَى
Luth, Ismail dan Ishaq demikian pula Ya’qub, Yusuf dan Ayyub dan selanjutnya

شُعَيْبُ هَارُوْنُ وَمُوْسَى وَالْـيَسَعْ ذُو الْكِـفْلِ دَاوُدُ سُلَيْمانُ اتَّـبَـعْ
Syuaib, Harun, Musa dan Alyasa’, Dzulkifli, Dawud, Sulaiman yang diikuti

إلْـيَـاسُ يُوْنُسْ زَكَرِيـَّا يَحْيَى عِـيْسَـى وَطَـهَ خَاتِمٌ دَعْ غَـيَّا
Ilyas, Yunus, Zakaria, Yahya, Isa dan Thaha (Muhammad) sebagai penutup, maka tinggalkanlah jalan yang menyimpang dari kebenaran

عَلَـيْـهِـمُ الصَّـلاةُ والسَّـلامُ وآلِهِـمْ مـَـا دَامَـتِ اْلأَيـَّـامُ
Semoga sholawat dan salam terkumpulkan pada mereka dan keluarga mereka sepanjang masa

وَالْـمَـلَكُ الَّـذِي بِلاَ أَبٍ وَأُمْ لاَ أَكْـلَ لاَ شـُرْبَ وَلاَ نَوْمَ لَهُمْ
Adapun para malaikat itu tetap tanpa bapak dan ibu, tidak makan dan tidak minum serta tidak tidur

تَفْـصِـيْلُ عَشْرٍ مِنْهُمُ جِبْرِيْـلُ مِـيْـكَـالُ اِسْـرَافِيْلُ عِزْرَائِـيْلُ
Secara terperinci mereka ada 10, yaitu Jibril, Mikail, Isrofil, dan Izroil

مُـنْـكَرْ نَـكِـيْرٌ وَرَقِيْبٌ وَكَذَا عَـتِـيْدُ مَالِكٌ وَرِضْوَانُ احْتـَذَى
Munkar, Nakiir, dan Roqiib, demikian pula ‘Atiid, Maalik, dan Ridwan dan selanjutnya

أَرْبَـعَـةٌ مِنْ كُتُبٍ تَـفْصِيْـلُهَا تَـوْارَةُ مُـوْسَى بِالْهُدَى تَـنْـزِيْلُهَا
Empat dari Kitab-Kitab Suci Allah secara terperinci adalah Taurat bagi Nabi Musa diturunkan dengan membawa petunjuk

زَبُـوْرُ دَاوُدَ وَاِنْـجِـيْـلٌ عَلَى عِيْـسَى وَفُـرْقَانٌ عَلَى خَيْرِ الْمَـلاَ
Zabur bagi Nabi Dawud dan Injil bagi Nabi Isa dan AlQur’an bagi sebaik-baik kaum (Nabi Muhammad SAW)

وَصُحُـفُ الْـخَـلِيْلِ وَالْكَلِيْـمِ فِيْـهَـا كَلاَمُ الْـحَـكَمِ الْعَلِيْـمِ
Dan lembaran-lembaran (Shuhuf) suci yang diturunkan untuk AlKholil (Nabi Ibrohim) dan AlKaliim (Nabi Musa) mengandung Perkataan dari Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui

وَكُـلُّ مَـا أَتَى بِهِ الـرَّسُـوْلُ فَحَـقُّـهُ الـتَّـسْـلِـيْمُ وَالْقَبُوْلُ
Dan segala apa-apa yang disampaikan oleh Rosulullah, maka kita wajib pasrah dan menerima

إِيـْمَـانُـنَا بِـيَـوْمِ آخِرٍ وَجَبْ وَكُـلِّ مَـا كَـانَ بِـهِ مِنَ الْعَجَبْ
Keimanan kita kepada Hari Akhir hukumnya wajib, dan segala perkara yang dahsyat pada Hari Akhir

خَـاتِمَةٌ فِي ذِكْرِ بَاقِي الْوَاجِـبِ مِمَّـا عَـلَى مُكَـلَّفٍ مِنْ وَاجِـبِ
Sebagai penutup untuk menerangkan ketetapan yang wajib, dari hal yang menjadi kewajiban bagi mukallaf

نَـبِـيُّـنَـا مُحَمَّدٌ قَـدْ أُرْسِلاَ لِلْـعَالَمِـيْـنَ رَحْـمَـةً وَفُضِّلاَ
Nabi kita Muhammad telah diutus untuk seluruh alam sebagai Rahmat dan keutamaan diberikan kepada beliau SAW melebihi semua

أَبـُوْهُ عَـبْدُ اللهِ عَبْدُ الْمُطَّلِـبْ وَهَـاشِمٌ عَبْـدُ مَنَافٍ يَـنْـتَسِبْ
Ayahnya bernama Abdullah putera Abdul Mutthalib, dan nasabnya bersambung kepada Hasyim putera Abdu Manaf

وَأُمُّـهُ آمِـنَـةُ الـزُّهْـرِيـَّـهْ أَرْضَـعَـهُ حَـلِيْمَـةُ السَّعْدِيـَّهْ
Dan ibunya bernama Aminah Az-Zuhriyyah, yang menyusui beliau adalah Halimah As-Sa’diyyah

مـَوْلِدُهُ بِـمَـكَـةَ اْلأَمِيْـنَـهْ وَفَـاتُـهُ بِـطَـيْـبَةَ الْـمَدِيْنَهْ
Lahirnya di Makkah yang aman, dan wafatnya di Toiybah (Madinah)

أَتَـمَّ قَـبْـلَ الْـوَحِيِ أرْبَعِيْنَا وَعُمْـرُهُ قَـدْ جَـاوَزَ الـسِّـتِّيْنَا
Sebelum turun wahyu, nabi Muhammad telah sempurna berumur 40 tahun, dan usia beliau 60 tahun lebih

وسـَبْـعَةٌ أَوْلاَدُهُ فَـمِـنْـهُـمُ ثَلاَثَـةٌ مِـنَ الـذُّكُـوْرِ تُـفْهَمُ
Ada 7 orang putera-puteri nabi Muhammad, diantara mereka 3 orang laki-laki, maka pahamilah itu

قـَاسِـمْ وَعَـبْدُ اللهِ وَهْوَ الطَّيـِّبُ وَطَـاهِـرٌ بِـذَيْـنِ ذَا يُـلَقَّبُ
Qasim dan Abdullah yang bergelar At-Thoyyib dan At-Thohir, dengan 2 sebutan inilah (At-Thoyyib dan At-Thohir) Abdullah diberi gelar

أَتَـاهُ إِبـْرَاهِـيْـمُ مِنْ سَـرِيـَّهْ فَأُمُّهُ مَارِيـَةُ الْـقِـبْـطِـيَّـهْ
Anak yang ketiga bernama Ibrohim dari Sariyyah (Amat perempuan), ibunya (Ibrohim) bernama Mariyah Al-Qibtiyyah

وَغَـيْـرُ إِبـْرَاهِيْمَ مِنْ خَـدِيْجَهْ هُمْ سِتَـةٌ فَـخُـذْ بِـهِمْ وَلِـيْجَهْ
Selain Ibrohim, ibu putera-puteri Nabi Muhammad berasal dari Khodijah, mereka ada 6 orang (selain Ibrohim), maka kenalilah dengan penuh cinta

وَأَرْبَعٌ مِـنَ اْلإِنـَاثِ تُـذْكَـرُ رِضْـوَانُ رَبِّـي لِلْـجَـمِـيْعِ يُذْكَرُ
Dan 4 orang anak perempuan Nabi akan disebutkan, semoga keridhoan Allah untuk mereka semua

فَـاطِـمَـةُ الزَّهْرَاءُ بَعْلُهَا عَلِيْ وَابـْنـَاهُمَا السِّبْطَانِ فَضْلُهُمْ جَلِيْ
Fatimah Az-Zahro yang bersuamikan Ali bin Abi Tholib, dan kedua putera mereka (Hasan dan Husein) adalah cucu Nabi yang sudah jelas keutamaanya

فَـزَيْـنَـبٌ وبَـعْـدَهَـا رُقَـيَّـهْ وَأُمُّ كُـلْـثُـوْمٍ زَكَـتْ رَضِيَّهْ
Kemudian Zaenab dan selanjutnya Ruqayyah, dan Ummu Kultsum yang suci lagi diridhoi

عَـنْ تِسْـعِ نِسْوَةٍ وَفَاةُ الْمُصْطَفَى خُـيِّـرْنَ فَاخْـتَرْنَ النَّـبِيَّ الْمُقْتَفَى
Dari 9 istri Nabi ditinggalkan setelah wafatnya, mereka semua telah diminta memilih syurga atu dunia, maka mereka memilih nabi sebagai panutan

عَـائِـشَـةٌ وَحَـفْصَةٌ وَسَـوْدَةُ صَـفِـيَّـةٌ مَـيْـمُـوْنَةٌ وَ رَمْلَةُ
Aisyah, Hafshah, dan Saudah, Shofiyyah, Maimunah, dan Romlah

هِنْـدٌ وَ زَيْـنَبٌ كَـذَا جُوَيـْرِيَهْ لِلْـمُـؤْمِنِيْنَ أُمَّـهَاتٌ مَرْضِيَهْ
Hindun dan Zaenab, begitu pula Juwairiyyah, Bagi kaum Mu’minin mereka menjadi ibu-ibu yang diridhoi

حَـمْـزَةُ عَـمُّـهُ وعَـبَّـاسٌ كَذَا عَمَّـتُـهُ صَـفِيَّـةٌ ذَاتُ احْتِذَا
Hamzah adalah Paman Nabi demikian pula ‘Abbas, Bibi Nabi adalah Shofiyyah yang mengikuti Nabi

وَقَـبْـلَ هِـجْـرَةِ النَّـبِيِّ اْلإِسْرَا مِـنْ مَـكَّـةٍ لَيْلاً لِقُدْسٍ يُدْرَى
Dan sebelum Nabi Hijrah (ke Madinah), terjadi peristiwa Isro’. Dari Makkah pada malam hari menuju Baitul Maqdis yang dapat dilihat

بَـعْـدَ إِسْـرَاءٍ عُـرُوْجٌ لِلـسَّمَا حَتىَّ رَأَى الـنَّـبِـيُّ رَبـًّا كَـلَّمَا
Setelah Isro’ lalu Mi’roj (naik) keatas sehingga Nabi melihat Tuhan yang berkata-kata

مِنْ غَيْرِ كَيْفٍ وَانْحِصَارٍ وَافْـتَرَضْ عَـلَـيْهِ خَمْساً بَعْدَ خَمْسِيْنَ فَرَضْ
Berkata-kata tanpa bentuk dan ruang. Disinilah diwajibkan kepadanya (sholat) 5 waktu yang sebelumnya 50 waktu

وَبَــلَّـغَ اْلأُمَّــةَ بِـاْلإِسـْرَاءِ وَفَـرْضِ خَـمْـسَةٍ بِلاَ امْتِرَاءِ
Dan Nabi telah menyampaikan kepada umat peristiwa Isro’ tersebut. Dan kewajiban sholat 5 waktu tanpa keraguan

قَـدْ فَـازَ صِـدِّيْقٌ بِتَـصْدِيْقٍ لَـهُ وَبِـالْـعُرُوْجِ الصِّدْقُ وَافَى أَهْلَهُ
Sungguh beruntung sahabat Abubakar As-Shiddiq dengan membenarkan peristiwa tersebut, juga peristiwa Mi’raj yang sudah sepantasnya kebenaran itu disandang bagi pelaku Isro’ Mi’roj

وَهَــذِهِ عَـقِـيْـدَةٌ مُـخْـتَصَرَهْ وَلِـلْـعَـوَامِ سَـهْـلَةٌ مُيَسَّرَهْ
Inilah keterangan Aqidah secara ringkas bagi orang-orang awam yang mudah dan gampang

نـَاظِـمُ تِلْـكَ أَحْـمَدُ الْمَرْزُوقِيْ مَـنْ يَنْـتَمِي لِلصَّادِقِ الْمَصْدُوْقِ
Yang di nadhomkan oleh Ahmad Al Marzuqi, seorang yang bernisbat kepada Nabi Muhammad (As-Shodiqul Mashduq)

وَ الْحَـمْـدُ ِللهِ وَصَـلَّى سَـلَّمَا عَلَـى النَّبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ عَلَّمَا
Dan segala puji bagi Allah serta Sholawat dan Salam tercurahkan kepada Nabi sebaik-baik orang yang telah mengajar

وَاْلآلِ وَالـصَّـحْـبِ وَكُـلِّ مُرْشِدِ وَكُـلِّ مَـنْ بِخَيْرِ هَدْيٍ يَقْتَدِي
Juga kepada keluarga dan sahabat serta orang yang memberi petunjuk dan orang yang mengikuti petunjuk

وَأَسْـأَلُ الْكَـرِيْمَ إِخْـلاَصَ الْعَمَلْ ونَـفْـعَ كُـلِّ مَنْ بِهَا قَدِ اشْتَغَلْ
Dan saya mohon kepada Allah yang Maha Pemurah keikhlasan dalam beramal dan manfaat bagi setiap orang yang berpegang teguh pada aqidah ini

أبْيَاتُهَا ( مَـيْـزٌ ) بِـعَدِّ الْجُمَّلِ تَارِيْخُها ( لِيْ حَيُّ غُرٍّ ) جُمَّلِ
Nadhom ini ada 57 bait dengan hitungan abjad, tahun penulisannya 1258 Hijriah

سَـمَّـيْـتُـهَا عَـقِـيْدَةَ الْـعَوَامِ مِـنْ وَاجِبٍ فِي الدِّيْنِ بِالتَّمَامِ
Aku namakan aqidah ini Aqidatul Awwam, keterangan yang wajib diketahui dalam urusan agama dengan sempurna

0 komentar
 
Support : KMJ MESIR | VISI-KMJ MESIR |
Copyright © 2013. PERCOBAAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website © Modified by Ndek Yar Al-Satirisy
Proudly powered by Blogger